Climate change: origin kopi mana yang bakal hilang duluan? | Green Bean & Farming Forum | Clorofile
Clorofile Green Bean & Farming
Green Bean & Farming

Climate change: origin kopi mana yang bakal hilang duluan?

M
dua minggu yang lalu
gue lagi riset soal ini dan datanya lumayan bikin tidak nyaman.

laporan SCA 2019 soal coffee and climate change bilang sampai 50% area suitable arabica global bisa hilang sebelum 2050 di skenario emisi tinggi. Ethiopia yang jadi salah satu origin paling bersejarah di industri kopi berpotensi kehilangan 39-59% area produktifnya. Colombia sudah mulai memindahkan area budidaya ke altitude lebih tinggi 150-200m per dekade karena suhu di bawahnya sudah gak kondusif.

Indonesia sendiri gimana? data BMKG untuk region Gayo di Aceh mencatat kenaikan suhu rata-rata sekitar 0.8-1 derajat dalam 20 tahun terakhir. kecil kelihatannya tapi untuk arabica yang optimal tumbuh di 18-24 derajat celsius, setiap 0.5 derajat itu signifikan.

menurut kalian origin mana yang paling rentan dan mana yang masih punya runway panjang?
6 Replies
A
dua minggu yang lalu
dari sisi saya petani di Sumatra, data yang disebutkan itu terasa nyata di lapangan. pola hujan sekarang berbeda dari yang saya kenal 15-20 tahun lalu. musim kemarau lebih panjang di beberapa tahun, dan kalau musim hujan tiba bisa terlalu deras sehingga justru merusak bunga yang sudah set.

untuk Gayo sendiri, area di bawah 1.200m sudah mulai bermasalah konsistensi panennya. yang masih stabil itu yang di atas 1.400m. tapi jumlah lahannya terbatas.
H
dua minggu yang lalu
terima kasih sudah share datanya, ini informatif sekali. kalau boleh tanya, untuk Indonesia sendiri selain Gayo, area produksi kopi mana yang paling rentan? Toraja, Flores, atau Jawa? apakah ada yang sudah ada studi spesifiknya?
D
satu minggu yang lalu
untuk Indonesia, kerentanannya beda-beda per origin. Toraja di ketinggian 1.400-1.900m masih relatif aman dalam jangka menengah. Gayo atas juga. yang paling rentan itu area-area arabica di ketinggian 800-1.100m di Sumatra dan Jawa beberapa kabupaten. sudah terlalu dekat suhu batas bawah untuk arabica.

yang menarik justru Papua. beberapa area di Papua punya ketinggian 1.500-2.000m lebih dengan suhu saat ini masih sangat kondusif untuk arabica berkualitas tinggi. dan dengan kenaikan suhu, runway-nya lebih panjang dari origin-origin di altitude lebih rendah. tapi akses dan infrastrukturnya masih tantangan besar.
Z
satu minggu yang lalu
gw mau kasih warning yang sering dilupain: kalau origin-origin besar kayak Ethiopia dan sebagian Brazil produktivitasnya turun signifikan, efeknya ke harga kopi global itu tidak linear. ini soal supply shock yang bisa bikin harga arabica naik sangat tajam dalam waktu singkat. ICE arabica futures udah volatile banget, kalau ada crop failure besar di beberapa origin utama sekaligus, bisa ada spike yang susah diprediksi.
O
satu minggu yang lalu
sejak baca thread kayak gini, tiap beli single origin gw kayak ngerasa nilainya beda. Yirgacheffe yang gw minum sekarang, dalam 2-3 dekade mungkin jadi sesuatu yang susah didapat. agak menyedihkan kalau dipikirin.
F
satu minggu yang lalu
gue ngerti kenapa ini terasa depressing. tapi ada sisi yang jarang dibahas: ada origin-origin baru yang mulai emerge justru karena pergeseran iklim ini. Yunnan di China selatan, ketinggian tertentu di Tanzania dan Kenya yang lebih tinggi, beberapa area di Uganda. Papua Indonesia juga berpotensi besar kalau infrastruktur dibenahi.

bukan berarti kehilangan Yirgacheffe itu gak menyedihkan ya, tapi landscape origin kopi global memang sedang dan akan terus bergeser. origin baru yang 10 tahun lagi mungkin jadi top tier.

Write a Reply

Login first to reply.

Create New Post

Silakan login terlebih dahulu untuk membuat post.

Unsaved Writing

You have unsaved writing. Save it as a draft before closing?

Member Info

Loading member info...

Sign In to Clorofile Forum