direct trade itu realistis tidak untuk roastery kecil menengah di Indonesia?
tapi dari yang gue coba riset: untuk beli langsung ke farm di Ethiopia atau Colombia, minimum volume yang mereka minta biasanya 1-5 bag (60kg per bag) per lot, plus biaya survey ke origin, legal documentation, custom clearance.
untuk roastery yang beli 200-500kg per bulan, kalkulasinya berat. padahal importer lokal yang bagus sudah kurasi dengan baik dan harganya sudah include semua biaya itu.
ada yang sudah coba direct trade atau microlot direct dan bisa cerita pengalamannya?


