roaster lain itu kompetitor apa calon partner? gue makin bingung
pattern kayak gini udah lama jalan di Skandinavia. roaster-roaster top di sana saling visit fasilitas, share insight profil roast, bahkan pinjam slot roasting kalau ada yang over-capacity. efeknya: level kualitas industri secara keseluruhan naik bareng. bukan satu pihak "nyolong" dari yang lain.
di Indonesia kondisinya beda. persaingan harga masih lebih dominan dari culture sharing. tapi apa itu yang bikin growth-nya lebih lambat dari potensinya?
ada yang udah pernah coba roaster collab di sini?

